Mimpi
Pagi tampak cerah.Langit berwarna biru bersih,tanpa sedikit
pun awan menghiasinya.Angin bertiup semilirlembutterasa sejuk saat membelai
kulit.Di depan kampus UI tampak seorang mahasiswa nyang sedang terburu-buru.Dan
tanpa disadarinya ia sudah menubruk seorang wanita.
“Sorry”kata Fadli sambil menolong wanita itu mengumpulkan
bukunya yang terjatuh
“Nggak apa-apa kok”
“Oh,Fadli”kata Fadli sambil menjulurkan tangannya.”Kamu
siapa?”
“Anggun”Jawab wanita itu seraya menyambut uluran tangan
Fadli
“Orangnya juga Anggun seperti namanya”. Canda Fadli. “Aku
mahasiswa Teknilogi Informasi. Kamu kuliah disini?”.
“Iya” Tutur Anggun.
“Jurusan apa?” tanya Fadli.
“Hukum” jawab anggun.
“Dihukum berapa tahun?” canda Fadly.
“Cuma empat tahun kok” jawab Anggun sambil tersenyum.
Setelah itu, Fadli dan Anggun bercerita panjang lebar dan
salinmg bertukar nomor Handphone. Setelah beberapa saat barulah Fadli ingat
bahwa ia ada jadwal kuliah.
“Aku pergi dulu ya? Aku ada jadwal kuliah pagi ini”.
Tanpa mendengarkan jawaban dari Anggun, Fadli berlari kearah
kampusnya. Anggun hanya tersenyum melihat tingkah anak muda itu. Dan itulah
pertemuan dua insan yang berbeda. Walaupun tak disengaja, tapi tetap membekas
dilubuk hati keduanya.
Sejak itulah merka saling berhubungan. Mereka layaknya
sepasang kekasih. Contohnya Anggun, mengajak fadli ke rumahnya dan
memperkenalkan Fadli kepada kadua orang tuanya. Sedangkan Fadli hanya
memperkanalkan Anggun kepada teman-tenannya. Karena dia hanya kos di Jakarta
dan dia hidup tanpa keluarga dan saudara disana.
Selain hanya kos di Jakarta, Fadli juga harus bekerja keras
untuk tetap kuliah. Ia bekerja sebagai penyiar di sebuah radio. Kadang-kadang
ia juga manggung di kafe-kafe bersama bandnya. Band itu, hadiah lambang
mimpi-mimpi Fadli. Oleh karena itu, band itu diberi nama Light Of Dream.
Fadli sering mengajak Anggun manggung bersamanya atau
bejalan berdua. Seperti malam ini, Fadli mengajak Anggun ke studio band
temannya. Anggun terkejut karna teman-teman Fadli jongkok didekat seonggok bara
api. Dan dihadapan mereka ada beberapa ekor ayam yang siap di panggang.
“Ada apa ni?” tanya Anggun.
”Acara adat kerajaan”jawab Fadli santai.
“Maksudnya?”
“ Ini hanya kebiasaan kami aja. Kalau ada rezeki berlebih,
kami akan melakukan hal semacam ini. Daripada makan di Restoran atau tempat
lain, lebih baik disini”.
“Emangmya kalian dapat apa?” tanya Anggun.
“Ada sebuah kafe yang menyuruh kami manggung disana tiga
kali seminggu” jawab fadli.
Beberapa saat kemudian, ada seekor ayam, selesai di
panggang. Diki, sahabat Fadli menghidangkan ayan tersebut.
“Ni untuk lo pasangan baru” tutur Diki kepada Fadli dan
Anggun. Mereka berdua hanya tersenyum.
“Makan aja ngun. Jangan malu-malu disan masih banyak kok. Ga
uwsah mikirin diet, yang harus diingat isi perut dulu. Perut kenyang hati
senang”.
“ Lo emang gak punya malu, perut udah sebesar drum masih aja
ngak sadar” kata fadli.
“jangan ngeledek dong…” balas Diki.
Anggun hanya tersenyum melihat tingkah dua sahabat sahabat
itu. Merka semua menyantap ayam itu dan beberapa ayam lain.
Tanpa terasa malam semakin larut, Fadli pun mengantarkan
Anggun pulang. Sejak itulah fadli dan Anggun samakin sering jalan berdua.
Karena sering jalan berdua, dihati keduanya mulai tumbuh benih-benih cinta.
Walaupun saling cinta, mereka berdua tidak pernah mengungkapkannya. Anggun malu
mengungkapkannaya karena sebagai perempuan, ia tidak mau dianggap sebagai
wanita murahan. Fadli, minder karena dia hamya seoramg pemuda miskin sedangkan
Anggun anak seoarang pengusaha kaya. Selain itu, dia tahu bahwa ayah anggun
tidak suka kepadanya.
Dari situlah timbul sebuah masalah, pada suatu malam Anggun
menelfon fadli.
”Nguut,nguut.” Bunyi getar hp Fadli
“Hallo ???, gun ada apa ??” tanya fadli.
“Fadli,, bisa ngak kesini ???” Anggun balas bertanya.
“Kemana,?aku ada kerjaan nich.”
“Kalau ngak bisa ngak pa-pa kok.”
“Aku bisa kok. Emangnya ada apa?”
“ Aku ada masalah ni, kamu tolong datang ke Jalan Imam
Bonjol no. 55”.
“Aku akan datang kok, tunggu aja disana”.
Dengan sigap, Fadli menghampiri motor dan pergi menemui
Anggun. Setibanya ke tempat yang dituju, Fadli merasakan perasaan tidak enak
karena di rumah itu sepi seperti tidak berpenghuni. Lalu dia turun dari
motornya dan berjalan ke teras rumah itu. Ketika hendak menotok pintu, Anggun
keluar dari rumah itu dan langsung memeluk Fadli dengan air mata teruai di
wajahnya.
“Fad, aku dijodohkan sama Alex oleh papaku.”kata Anggun
iantara isak tangisnya.”
“Alex mana?”tanya Fadli.
“Alex itu anak teman Papaku. Dia direktur di perusahaan
milik orang tuanya.”jawab Anggun .
“Kenapa kamu gak mau?Alex itu udah mapan. Selain itu papa
kamu ingin yang terbaik untuk anaknya. Bukan untuk menjerumuskan
anaknya.”kataFadli mendukung Anggun menikahi Alex. Padahal hatinya sangat perih
mendengar kabar itu.
“Tapi aku gak suka sama dia”jawab Anggun
“Kamu pasrah aja. Kalau kamu gak berjodoh Tuhan akan
menunjakkan jalannya.”nasehat Fadli.
Tapi Anggun tidak mendengarkan nasehat Fadli karena
perasaannya sudah kalut dan tidak bisa berpikir jernih. Dia mempunyai rencana
agar dia tidak jadi menikah dengan Alex. Walaupun harus menyerahkah
kehormatannya kepada Ia pergi ke dapur dan membuatkan minuman untik Fadli.
Fadli tapi ia rela. Tanpa memikirkan perasaan Fadli Anggun memasukkan obat
peransang ke dalam minuman yang sudah ia buat.
“Minum dulu, Fad.”
”Ya”kata Fadli. Tanpa curiga Fadli menghabiskan minuman itu.
“Ini rumah siapa, Gun?”Tanya Fadli
“Rumah pamanku. Sekarang dia dan keluarganya tinggal di
Surabaya.”
“Beberapa saat kemudian Fadli meras pusing dan kesadarannya
mulai hilang. Dengan sekejap nafsunya meninggi. Tanpa ragu-ragu Anggun membawa
Fadli ke dalam kamar danterjadilah perbuatan yang di laknatullah di dalam rumah
itu.
“Astghfirullah al’azim”
Jam menunjakkan pukul empat pagi. Anggun terbangun dari
tidurnya. Ia mulai merasakan penyesalan dalam dirinya. Dia malu kepada Fadli
karena sudah menjadu wanita yang sangat rendah. Dengn tergesa-gesa ia
meninggalkan rumah itu.
Satu jam kemudian Fadli terbangun dan mencari-cari Anggun.
Dia memanggil-manggil Anggun tapi tidak ada sahutan. Dia pergi mengelilingi rumah
itu namun tak seorang pun yang ditemukannya. Dengan santai ia pergi
meninggalkan rumah itu karena dia tidak mengetahui apa yang telah terjadi pada
malam itu.
****
Sejak kejadian malam itu Fadli tidak pernah lagi bertemu
dengan Anggun. Ketika dihampiri di rumahnya, Anggun tidak ada disana. Setelah
beberapa minggu barulah Fadli tahu hal sebenarnya dari pembantu Anggun. Wanita
itu mengatakan bahwa Anggun sekarang tinggal di Amerika.
Anggun pindah ke Amerika karena kejadian malam itu. Dia
menceritakan hal itu pada orang tuanya agar dia tidak jadi dijodohkan dengan
Alex. Dia juga mengatakan bahwa ia mencintai Fadli. Tapi bukannya mendapatkan
restu, dia malah disuruh pindah ke Amerika. Dia patuh saja pada orang tuanya
karena dia malu jika masih bertemu dengan Fadli.
Fadli merasa sangat sedih tapi dia tetap menahan diri agar
tidak tenggelam dalam kesedihan. Dia tetap mensyukuri kisah hidupnya walaupun
sangat menyakitkan. Dia menjadikan itu sebuah pengalaman yang tak terlupakan.
Dari sanalah akhirnya dia menemukan jalan hidupnya.Ia menciptakan lagu dari
kisah hidupnya itu. Kemudian dia mengirimkan demo lagu itu ke perusahaan
rekaman.
Setelah masuk dapur rekaman, tanpa disangka respon
masyarakat sangat baik. Dan akhirnya Light Of Dream menjadi band besardan
mempunyai fans dimana-mana yang menamakan dirinya dengan dreamers.Dan Fadli
sudah mendapatkan salah satu mimpinya yaitu membuat bandnya terkenal. Tapi ada
satu mimpi yang belum bisa diwujudkannya. Mimpinya menikahiAnggun.
Setelah berjalan dua setengah tahun, tanpa disadari Fadli
bertemu dengan masa lalunya. Hal itu terjadi ketika ia hendak pulang setelah
manggung diluar kota. Ketika itu ia merasa rindu kepada Anggun. Kemudian ia
melewati komplek perumahan dimana Anggun tinggal.
Ketika berada di taman dekat rumah Anggun mobilnya mogok dan
ia pun turun dari mobil itu. Sewaktu memperbaiki mobilnya, Fadli mendengar
tangisan anak kecil. Dengan penuh perhatian fadli menghampiri anak itu.
“Ada apa, Nak?”tanya Fadli
Anak itu hanya terdiam. Ia tidak mengerti apa yang
dibicarakan Fadli karena umurnya baru satun tahun lebih. Lalu Fadli bertanya
lagi
“Mama kamu mana?”anak itu masih terdiam”Papa kamu?”
“Papa”kata anak itu kepada Fadli. Itulah kata perama yang
keluar dari mulutnya
“Om cuma nanya, papa kamu mana?”
“Papa”kata anak itu untuk kedua kalinya.
Tak berselang beberapa lama pengasuh anak itupun datang.
“Maaf Mas, ngerepotin”kata wanita itu.
“Gak apa-apa kok”kata Fadli
“Siapa namanya,Mbak?”tanya Fadli sambil melirik ke arah anak
itu.
“Wido mas”
“Anak siapa,Mbak?Anak Wahyu ya?”tanya Fadli sambil melihat
ke sebuah rumah yang terletak disamping rumah Anggun. Fadli sangat mengenal
wilayah itu karena sebelum Anggun pindah ke Amerika ia sering datang kesana.
“Ini anak Mbak Anggun.”
Fadli merasakan darahnya berdesir dan pikirannya.melayang
pada kejadian malam itu. Apakah ada sesuatu yang terjadi pada malam itu?Apakah
Wido ini anakku?tanya Fali di dalam hati.
Tanpa disadari Fadli, Anggun sudah berada disana.
“Sedang apa kamu, Nak?”Tanya Anggun kepada anaknya
Fadli yang baru menyadari kehadiran Anggun langsung memegang
erat tangan wanita itu. Anggun sangat terkejut ada sesosok pria yang memegang
tangannya, apalagi setelah mengetahui bahwa pria itu adalah Fadli.
“Anak siapa ini, Gun?”
“Anakku”jawab Anggun tegas. Lalu dia mencerikan apa yang
telah terjadi malam itu.
“Dia anakku?”tanya Fadli tidak percaya
“Maafin aku, Fad.”pinta Anggun.
Dengan segera Anggun menggendong Wido yang sedang duduk di
atas rerumputan dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu. Fadli tidak
menyangka bahwa ia sudah mempunyai seorang anak Dan ia ingin sekali menemui
anaknya itu tapi ia tidak mempunyai keberanian.
Keesokan harinya Fali datang lagi kesana dan memberanikan
diri untuk datang ke rumah Anggun. Setibanya disana Fadli memencet bel rumah.
“Ning-nong,ning-nong”
Beberapa saat kemudian datanglah wanita paruh baya
membukakan pintu. Wanita itu adalah mama Anggun.
“Eh, Fadli. Ada apa?”
“Widonya ada Tante?”tanya Fadli.
“Cari Wido atau Anggun?”canda Mama Anggun.
Fadli hanya tersenyum mendengarnya. Sebenarnya dia juga
ingin menemui Anggun, tapi dia memendam perasaannya. Apalagi setelah melihat
dilam rumahn itu ada Alex yang sedang mengobrol dengan papa Anggun. Fadli
memalingkan wajahnya dari laki laki itu dan terus mengikuti lqangkah mama
Anggun yang menuju ke sebuah kamar diman Wido dan Anggun berada.
Wido sangat senang melihat ayah nya datang. Dia merangkak ke
arah Fadli dan berkata “Papa”
Anggun dan mamanya terkejut mendengar perkataan Wido tapi
mereka diam saja. Lalu mama Anggun meninggalkan ruangan itu.
“Ngapain Alex datang kesini?”
“Entahlah.” Lalu Anggun menceritakan bahwa papanya
meneruskan perjodohan mereka.
Hati Fadli terasa teriris sembilu mendengar kabar itu. Kemudian
Fadli memegang mainan Wido dan mengajaknya bermain. Tak terasa hari pun
menjelang sore dan Fadli pamit pulang.
Setelah saat itu Fadli sering menemui anaknya. Untuk
mengajak main atau hanya sekedar melepaskan rindu. Apalagi sebelum manggung di
luar kota. Dia akan membawa wido keliling komplek dan setelah itu barulah ia
pergi.
Fadli juga pernah membawa Wido kerumahnya. Hal itu karena
dia akan pergi selama satu bulan. Dia akan melakukan promo album keduanya
bersama Light Of Dream yang dilakukan di seluruh Indonesia, mulai dari Jawa,
Sumatera, Kalimantan dan berakhir di Sulawesi. Oleh sebab itu, Fadli membawa
Wido ke rumahnyab agar dia dia bisa bermain dengan anaknya sebelum dia
berangkat.
“Gun, aku akan membawa Wido ke rumah sambil ngemasin
pakaianku.”
“Emangnya kamu mau kemana?”tanya Anggun.
“Aku akan melakukan promo album kedua bersama Light Of
Dream.”
“Kapan kamu berangkat?”
“Siang ini. Nanti pukul satu aku akan mengantarkan Wido
pulang.”
“Gak usah aku aja yang menjemputnya.”
“Ya udah. Aku pergi dulu.”
Setelah itu Fadli membawa Wido ke rumahnya. Wido sangat
senang berada disana karena Fadli sudah menyiapkan segala kebutuhan Wido. Di
rumah itu juga ada sebuah yang disiapkan Fadli sebagai tempat bermain untuk
Wido. Di dalam kamar itu ada mobil-mobilan, pistol-pistolan dan mainan lainnya.
Wido juga senang bermain dengan diki, sahabat karib Fadli. Wido sangat
menyukainya karena diki gemuk dan pipinya bulat seperti badut.
Tak terasa waktu bergulir dengan cepat dan jam menunjukkan
pukul satu. Dan Anggun pun datang kesana. Ketika ia tiba disana, Fadli sedang
bermain dengan Wido dan tak menyadari kedatangannya. Sewaktu masuk, ia merasa
terharu karena Fadli masih menyimpan boneka yang ia kasih. Dia juga merasa
sedih karena melihat dua buah foto yang terpampang di dinding. Foto yang
pertama adalah froto Fadli dan yang satu lagi adalah foto bayangan seorang yang
di depannya ada tanda tanya dan tulisan “Who she is?”
Setelah beberapa saat barulah Fadli menyadari bahwa Anggun
sudah berada disana. Dan kini giliran Fadli yang merasa sedih karena Anggun
datang kesana bersama Alex.
Fadli hanya mengangguk ketika Anggun mengucapkan pamit untuk
membawa Wido pulang. Dia termenung melihat kedua orang yang dicintainya
melangkah pergi. Ia baru sadar setelah Diki menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Kemudian mereka berdua mengabil koper pakaian dan berangkat meninggalkan rumah
itu.
****
Sebulan kemudian…….
Pagi itu Anggun menemani Wido yang sedang bermain. Kemudian
datanglah Alex dengan wajah penuh amarah.
“Gun, kapan sih kamu mengurus hubungan kita? Buang saja anak
harammu itu!”bentak Alex.
“Hubungan siapa?”
“Ya hubungan kitalah!”
“Hubungan kita yang mana? Hubunganmu dengan papaku
kali!”Anggun tak mau kalah.
Mata Alex yang tampak merah melirik ke arah Wido. Anggun
yang takut terjadi sesuatu pada Wido langsung menggendong anak itu
“Berikan dia!”perintah Alex yang berniat membuang Wido.
“Gak.”
Mereka pun memperebutkan Wido tapi Anggun masih bisa
mempertahankan anaknya itu. Karena Alex tidak bisa mendapatkan Wido, dengan
penuh amarah dia menampar Anggun. Dan tak sengaja Anggun pun melepaskan Wido
dari gendongannya. Wido terjatuh dan terhempas ke lantai. Anak itupun pingsan
karena kepalanya berdarah dan ia tidak pernah merasakan sakit seperti itu
sebelumnya. Dan tiba-tiba Fadli datang kesana. Dia sangat terkejut melihat
anaknya pingsan dan kepalanya berdarah.
“Lo apain dia?”bentak Fadli.
“Emang lo mau apa?”
Karena merasa ditantang, fadli pun memukul Alex. Kemudian
dengan sigap dia membawa Wido ke arah mobilnya, berniat membawa Wido ke rumah
sakit.
“Lex, jangan pernah kamu kesini lagi!”katab Anggun sambil
mengikuti langkah Fadli.
“Fad, aku ikut ya?”pinta Anggun.
Fadli hanya diam. Kemudian dia menyerahkan Wido kepada
Anggun. Setelah itu, Fadli membuka pintu mobilnya dan diikuti oleh Anggun.
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung membabawa Wido ke ruang UGD. Dengan
penuh cemas mereka menunggu penjelasan dari dokter di depan ruang itu.
Tiba-tiba ada seorang dokter keluar dari ruangan itu.
“Apakah kalian orang tua dari pasien?”tanya dokter itu.
“Iya dok”jawab Anggun
“Ada apa dengan dia, Dok?”tanya Fadli.
“Dia tidak apa-apa. Dia hanya sedikit shock dan luka luka di
kepalanya itu hanya luka ringan.”jawab dokter itu.
“Boleh kami masuk, Dok?”
“Silahkan!”
Dengan tergesa-gesa mereka masuk dan menemui Wido. Mereka
sedih melihat Wido terbaring lemah diatas tempat tidur. Sesaat kemudian orng
tua Anggun datang kesana setelah dapat kabar dari pembantunya.
“Bagaimana keadaan Wido, Gun?”tanya mama Anggun.
“Maafkan Papa, Gun”pinta papa Anggun.
“Kenapa?”
“Karena Papa anak kamu seperti ini”
“Ini bukan salah Papa kok”jawab Anggun.
“Sekarang Papa tidak akan memaksa kamu menikah dengan dengan
Alex dan Papa merestui hubunganmu dengan Fadli. Fadli, kamu maukan menikah
dengan Anggun.”
“Terserah Anggun aja, Om. Kalau Anggun mau, Aku pasti
mau.”jawab Fadli.
Kemudian mereka melirik kepada Anggun. Anggun hanya diam.
Kemudian ia memeluk Fadli. Dan Fadli merasa senang sekali karena akhirnya dia
bisa mewujudkan mimpinya. Tapi dia juga merasa sedih karena melihat anaknya
yang sedang sakit. Setelah melepaskan pelukan, mereka pun tersenyum. Sementara
itu, orang tua Anggun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua
anak muda itu.
SELESAI
Hidup itu berawal dari mimpi
Mimpi ituyang melahirkan cita-cita
Cita-cita itu harus diwujudkan dengan usaha
Usaha itu dilakukan bila ada kemauan dan
“Where there is a will there is a way”



0 komentar: