Jumat, 29 Maret 2013

0

Mimpi

Pagi tampak cerah.Langit berwarna biru bersih,tanpa sedikit pun awan menghiasinya.Angin bertiup semilirlembutterasa sejuk saat membelai kulit.Di depan kampus UI tampak seorang mahasiswa nyang sedang terburu-buru.Dan tanpa disadarinya ia sudah menubruk seorang wanita.

“Sorry”kata Fadli sambil menolong wanita itu mengumpulkan bukunya yang terjatuh
“Nggak apa-apa kok”
“Oh,Fadli”kata Fadli sambil menjulurkan tangannya.”Kamu siapa?”
“Anggun”Jawab wanita itu seraya menyambut uluran tangan Fadli
“Orangnya juga Anggun seperti namanya”. Canda Fadli. “Aku mahasiswa Teknilogi Informasi. Kamu kuliah disini?”.

“Iya” Tutur Anggun.
“Jurusan apa?” tanya Fadli.
“Hukum” jawab anggun.
“Dihukum berapa tahun?” canda Fadly.
“Cuma empat tahun kok” jawab Anggun sambil tersenyum.
Setelah itu, Fadli dan Anggun bercerita panjang lebar dan salinmg bertukar nomor Handphone. Setelah beberapa saat barulah Fadli ingat bahwa ia ada jadwal kuliah.
“Aku pergi dulu ya? Aku ada jadwal kuliah pagi ini”.
Tanpa mendengarkan jawaban dari Anggun, Fadli berlari kearah kampusnya. Anggun hanya tersenyum melihat tingkah anak muda itu. Dan itulah pertemuan dua insan yang berbeda. Walaupun tak disengaja, tapi tetap membekas dilubuk hati keduanya.
Sejak itulah merka saling berhubungan. Mereka layaknya sepasang kekasih. Contohnya Anggun, mengajak fadli ke rumahnya dan memperkenalkan Fadli kepada kadua orang tuanya. Sedangkan Fadli hanya memperkanalkan Anggun kepada teman-tenannya. Karena dia hanya kos di Jakarta dan dia hidup tanpa keluarga dan saudara disana.
Selain hanya kos di Jakarta, Fadli juga harus bekerja keras untuk tetap kuliah. Ia bekerja sebagai penyiar di sebuah radio. Kadang-kadang ia juga manggung di kafe-kafe bersama bandnya. Band itu, hadiah lambang mimpi-mimpi Fadli. Oleh karena itu, band itu diberi nama Light Of Dream.
Fadli sering mengajak Anggun manggung bersamanya atau bejalan berdua. Seperti malam ini, Fadli mengajak Anggun ke studio band temannya. Anggun terkejut karna teman-teman Fadli jongkok didekat seonggok bara api. Dan dihadapan mereka ada beberapa ekor ayam yang siap di panggang.
“Ada apa ni?” tanya Anggun.
”Acara adat kerajaan”jawab Fadli santai.
“Maksudnya?”
“ Ini hanya kebiasaan kami aja. Kalau ada rezeki berlebih, kami akan melakukan hal semacam ini. Daripada makan di Restoran atau tempat lain, lebih baik disini”.
“Emangmya kalian dapat apa?” tanya Anggun.
“Ada sebuah kafe yang menyuruh kami manggung disana tiga kali seminggu” jawab fadli.
Beberapa saat kemudian, ada seekor ayam, selesai di panggang. Diki, sahabat Fadli menghidangkan ayan tersebut.
“Ni untuk lo pasangan baru” tutur Diki kepada Fadli dan Anggun. Mereka berdua hanya tersenyum.
“Makan aja ngun. Jangan malu-malu disan masih banyak kok. Ga uwsah mikirin diet, yang harus diingat isi perut dulu. Perut kenyang hati senang”.
“ Lo emang gak punya malu, perut udah sebesar drum masih aja ngak sadar” kata fadli.
“jangan ngeledek dong…” balas Diki.
Anggun hanya tersenyum melihat tingkah dua sahabat sahabat itu. Merka semua menyantap ayam itu dan beberapa ayam lain.
Tanpa terasa malam semakin larut, Fadli pun mengantarkan Anggun pulang. Sejak itulah fadli dan Anggun samakin sering jalan berdua. Karena sering jalan berdua, dihati keduanya mulai tumbuh benih-benih cinta. Walaupun saling cinta, mereka berdua tidak pernah mengungkapkannya. Anggun malu mengungkapkannaya karena sebagai perempuan, ia tidak mau dianggap sebagai wanita murahan. Fadli, minder karena dia hamya seoramg pemuda miskin sedangkan Anggun anak seoarang pengusaha kaya. Selain itu, dia tahu bahwa ayah anggun tidak suka kepadanya.
Dari situlah timbul sebuah masalah, pada suatu malam Anggun menelfon fadli.
”Nguut,nguut.” Bunyi getar hp Fadli
“Hallo ???, gun ada apa ??” tanya fadli.
“Fadli,, bisa ngak kesini ???” Anggun balas bertanya.
“Kemana,?aku ada kerjaan nich.”
“Kalau ngak bisa ngak pa-pa kok.”
“Aku bisa kok. Emangnya ada apa?”
“ Aku ada masalah ni, kamu tolong datang ke Jalan Imam Bonjol no. 55”.
“Aku akan datang kok, tunggu aja disana”.
Dengan sigap, Fadli menghampiri motor dan pergi menemui Anggun. Setibanya ke tempat yang dituju, Fadli merasakan perasaan tidak enak karena di rumah itu sepi seperti tidak berpenghuni. Lalu dia turun dari motornya dan berjalan ke teras rumah itu. Ketika hendak menotok pintu, Anggun keluar dari rumah itu dan langsung memeluk Fadli dengan air mata teruai di wajahnya.
“Fad, aku dijodohkan sama Alex oleh papaku.”kata Anggun iantara isak tangisnya.”
“Alex mana?”tanya Fadli.
“Alex itu anak teman Papaku. Dia direktur di perusahaan milik orang tuanya.”jawab Anggun .
“Kenapa kamu gak mau?Alex itu udah mapan. Selain itu papa kamu ingin yang terbaik untuk anaknya. Bukan untuk menjerumuskan anaknya.”kataFadli mendukung Anggun menikahi Alex. Padahal hatinya sangat perih mendengar kabar itu.
“Tapi aku gak suka sama dia”jawab Anggun
“Kamu pasrah aja. Kalau kamu gak berjodoh Tuhan akan menunjakkan jalannya.”nasehat Fadli.
Tapi Anggun tidak mendengarkan nasehat Fadli karena perasaannya sudah kalut dan tidak bisa berpikir jernih. Dia mempunyai rencana agar dia tidak jadi menikah dengan Alex. Walaupun harus menyerahkah kehormatannya kepada Ia pergi ke dapur dan membuatkan minuman untik Fadli. Fadli tapi ia rela. Tanpa memikirkan perasaan Fadli Anggun memasukkan obat peransang ke dalam minuman yang sudah ia buat.
“Minum dulu, Fad.”
”Ya”kata Fadli. Tanpa curiga Fadli menghabiskan minuman itu.
“Ini rumah siapa, Gun?”Tanya Fadli
“Rumah pamanku. Sekarang dia dan keluarganya tinggal di Surabaya.”
“Beberapa saat kemudian Fadli meras pusing dan kesadarannya mulai hilang. Dengan sekejap nafsunya meninggi. Tanpa ragu-ragu Anggun membawa Fadli ke dalam kamar danterjadilah perbuatan yang di laknatullah di dalam rumah itu.
“Astghfirullah al’azim”
Jam menunjakkan pukul empat pagi. Anggun terbangun dari tidurnya. Ia mulai merasakan penyesalan dalam dirinya. Dia malu kepada Fadli karena sudah menjadu wanita yang sangat rendah. Dengn tergesa-gesa ia meninggalkan rumah itu.
Satu jam kemudian Fadli terbangun dan mencari-cari Anggun. Dia memanggil-manggil Anggun tapi tidak ada sahutan. Dia pergi mengelilingi rumah itu namun tak seorang pun yang ditemukannya. Dengan santai ia pergi meninggalkan rumah itu karena dia tidak mengetahui apa yang telah terjadi pada malam itu.

****

Sejak kejadian malam itu Fadli tidak pernah lagi bertemu dengan Anggun. Ketika dihampiri di rumahnya, Anggun tidak ada disana. Setelah beberapa minggu barulah Fadli tahu hal sebenarnya dari pembantu Anggun. Wanita itu mengatakan bahwa Anggun sekarang tinggal di Amerika.
Anggun pindah ke Amerika karena kejadian malam itu. Dia menceritakan hal itu pada orang tuanya agar dia tidak jadi dijodohkan dengan Alex. Dia juga mengatakan bahwa ia mencintai Fadli. Tapi bukannya mendapatkan restu, dia malah disuruh pindah ke Amerika. Dia patuh saja pada orang tuanya karena dia malu jika masih bertemu dengan Fadli.
Fadli merasa sangat sedih tapi dia tetap menahan diri agar tidak tenggelam dalam kesedihan. Dia tetap mensyukuri kisah hidupnya walaupun sangat menyakitkan. Dia menjadikan itu sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Dari sanalah akhirnya dia menemukan jalan hidupnya.Ia menciptakan lagu dari kisah hidupnya itu. Kemudian dia mengirimkan demo lagu itu ke perusahaan rekaman.
Setelah masuk dapur rekaman, tanpa disangka respon masyarakat sangat baik. Dan akhirnya Light Of Dream menjadi band besardan mempunyai fans dimana-mana yang menamakan dirinya dengan dreamers.Dan Fadli sudah mendapatkan salah satu mimpinya yaitu membuat bandnya terkenal. Tapi ada satu mimpi yang belum bisa diwujudkannya. Mimpinya menikahiAnggun.
Setelah berjalan dua setengah tahun, tanpa disadari Fadli bertemu dengan masa lalunya. Hal itu terjadi ketika ia hendak pulang setelah manggung diluar kota. Ketika itu ia merasa rindu kepada Anggun. Kemudian ia melewati komplek perumahan dimana Anggun tinggal.
Ketika berada di taman dekat rumah Anggun mobilnya mogok dan ia pun turun dari mobil itu. Sewaktu memperbaiki mobilnya, Fadli mendengar tangisan anak kecil. Dengan penuh perhatian fadli menghampiri anak itu.
“Ada apa, Nak?”tanya Fadli
Anak itu hanya terdiam. Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan Fadli karena umurnya baru satun tahun lebih. Lalu Fadli bertanya lagi
“Mama kamu mana?”anak itu masih terdiam”Papa kamu?”
“Papa”kata anak itu kepada Fadli. Itulah kata perama yang keluar dari mulutnya
“Om cuma nanya, papa kamu mana?”
“Papa”kata anak itu untuk kedua kalinya.
Tak berselang beberapa lama pengasuh anak itupun datang.
“Maaf Mas, ngerepotin”kata wanita itu.
“Gak apa-apa kok”kata Fadli
“Siapa namanya,Mbak?”tanya Fadli sambil melirik ke arah anak itu.
“Wido mas”
“Anak siapa,Mbak?Anak Wahyu ya?”tanya Fadli sambil melihat ke sebuah rumah yang terletak disamping rumah Anggun. Fadli sangat mengenal wilayah itu karena sebelum Anggun pindah ke Amerika ia sering datang kesana.
“Ini anak Mbak Anggun.”
Fadli merasakan darahnya berdesir dan pikirannya.melayang pada kejadian malam itu. Apakah ada sesuatu yang terjadi pada malam itu?Apakah Wido ini anakku?tanya Fali di dalam hati.
Tanpa disadari Fadli, Anggun sudah berada disana.
“Sedang apa kamu, Nak?”Tanya Anggun kepada anaknya
Fadli yang baru menyadari kehadiran Anggun langsung memegang erat tangan wanita itu. Anggun sangat terkejut ada sesosok pria yang memegang tangannya, apalagi setelah mengetahui bahwa pria itu adalah Fadli.
“Anak siapa ini, Gun?”
“Anakku”jawab Anggun tegas. Lalu dia mencerikan apa yang telah terjadi malam itu.
“Dia anakku?”tanya Fadli tidak percaya
“Maafin aku, Fad.”pinta Anggun.
Dengan segera Anggun menggendong Wido yang sedang duduk di atas rerumputan dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu. Fadli tidak menyangka bahwa ia sudah mempunyai seorang anak Dan ia ingin sekali menemui anaknya itu tapi ia tidak mempunyai keberanian.
Keesokan harinya Fali datang lagi kesana dan memberanikan diri untuk datang ke rumah Anggun. Setibanya disana Fadli memencet bel rumah.
“Ning-nong,ning-nong”
Beberapa saat kemudian datanglah wanita paruh baya membukakan pintu. Wanita itu adalah mama Anggun.
“Eh, Fadli. Ada apa?”
“Widonya ada Tante?”tanya Fadli.
“Cari Wido atau Anggun?”canda Mama Anggun.
Fadli hanya tersenyum mendengarnya. Sebenarnya dia juga ingin menemui Anggun, tapi dia memendam perasaannya. Apalagi setelah melihat dilam rumahn itu ada Alex yang sedang mengobrol dengan papa Anggun. Fadli memalingkan wajahnya dari laki laki itu dan terus mengikuti lqangkah mama Anggun yang menuju ke sebuah kamar diman Wido dan Anggun berada.
Wido sangat senang melihat ayah nya datang. Dia merangkak ke arah Fadli dan berkata “Papa”
Anggun dan mamanya terkejut mendengar perkataan Wido tapi mereka diam saja. Lalu mama Anggun meninggalkan ruangan itu.
“Ngapain Alex datang kesini?”
“Entahlah.” Lalu Anggun menceritakan bahwa papanya meneruskan perjodohan mereka.
Hati Fadli terasa teriris sembilu mendengar kabar itu. Kemudian Fadli memegang mainan Wido dan mengajaknya bermain. Tak terasa hari pun menjelang sore dan Fadli pamit pulang.
Setelah saat itu Fadli sering menemui anaknya. Untuk mengajak main atau hanya sekedar melepaskan rindu. Apalagi sebelum manggung di luar kota. Dia akan membawa wido keliling komplek dan setelah itu barulah ia pergi.
Fadli juga pernah membawa Wido kerumahnya. Hal itu karena dia akan pergi selama satu bulan. Dia akan melakukan promo album keduanya bersama Light Of Dream yang dilakukan di seluruh Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan dan berakhir di Sulawesi. Oleh sebab itu, Fadli membawa Wido ke rumahnyab agar dia dia bisa bermain dengan anaknya sebelum dia berangkat.
“Gun, aku akan membawa Wido ke rumah sambil ngemasin pakaianku.”
“Emangnya kamu mau kemana?”tanya Anggun.
“Aku akan melakukan promo album kedua bersama Light Of Dream.”
“Kapan kamu berangkat?”
“Siang ini. Nanti pukul satu aku akan mengantarkan Wido pulang.”
“Gak usah aku aja yang menjemputnya.”
“Ya udah. Aku pergi dulu.”
Setelah itu Fadli membawa Wido ke rumahnya. Wido sangat senang berada disana karena Fadli sudah menyiapkan segala kebutuhan Wido. Di rumah itu juga ada sebuah yang disiapkan Fadli sebagai tempat bermain untuk Wido. Di dalam kamar itu ada mobil-mobilan, pistol-pistolan dan mainan lainnya. Wido juga senang bermain dengan diki, sahabat karib Fadli. Wido sangat menyukainya karena diki gemuk dan pipinya bulat seperti badut.
Tak terasa waktu bergulir dengan cepat dan jam menunjukkan pukul satu. Dan Anggun pun datang kesana. Ketika ia tiba disana, Fadli sedang bermain dengan Wido dan tak menyadari kedatangannya. Sewaktu masuk, ia merasa terharu karena Fadli masih menyimpan boneka yang ia kasih. Dia juga merasa sedih karena melihat dua buah foto yang terpampang di dinding. Foto yang pertama adalah froto Fadli dan yang satu lagi adalah foto bayangan seorang yang di depannya ada tanda tanya dan tulisan “Who she is?”
Setelah beberapa saat barulah Fadli menyadari bahwa Anggun sudah berada disana. Dan kini giliran Fadli yang merasa sedih karena Anggun datang kesana bersama Alex.
Fadli hanya mengangguk ketika Anggun mengucapkan pamit untuk membawa Wido pulang. Dia termenung melihat kedua orang yang dicintainya melangkah pergi. Ia baru sadar setelah Diki menggoyang-goyangkan tubuhnya. Kemudian mereka berdua mengabil koper pakaian dan berangkat meninggalkan rumah itu.

****

Sebulan kemudian…….
Pagi itu Anggun menemani Wido yang sedang bermain. Kemudian datanglah Alex dengan wajah penuh amarah.
“Gun, kapan sih kamu mengurus hubungan kita? Buang saja anak harammu itu!”bentak Alex.
“Hubungan siapa?”
“Ya hubungan kitalah!”
“Hubungan kita yang mana? Hubunganmu dengan papaku kali!”Anggun tak mau kalah.
Mata Alex yang tampak merah melirik ke arah Wido. Anggun yang takut terjadi sesuatu pada Wido langsung menggendong anak itu
“Berikan dia!”perintah Alex yang berniat membuang Wido.
“Gak.”
Mereka pun memperebutkan Wido tapi Anggun masih bisa mempertahankan anaknya itu. Karena Alex tidak bisa mendapatkan Wido, dengan penuh amarah dia menampar Anggun. Dan tak sengaja Anggun pun melepaskan Wido dari gendongannya. Wido terjatuh dan terhempas ke lantai. Anak itupun pingsan karena kepalanya berdarah dan ia tidak pernah merasakan sakit seperti itu sebelumnya. Dan tiba-tiba Fadli datang kesana. Dia sangat terkejut melihat anaknya pingsan dan kepalanya berdarah.
“Lo apain dia?”bentak Fadli.
“Emang lo mau apa?”
Karena merasa ditantang, fadli pun memukul Alex. Kemudian dengan sigap dia membawa Wido ke arah mobilnya, berniat membawa Wido ke rumah sakit.
“Lex, jangan pernah kamu kesini lagi!”katab Anggun sambil mengikuti langkah Fadli.
“Fad, aku ikut ya?”pinta Anggun.
Fadli hanya diam. Kemudian dia menyerahkan Wido kepada Anggun. Setelah itu, Fadli membuka pintu mobilnya dan diikuti oleh Anggun. Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung membabawa Wido ke ruang UGD. Dengan penuh cemas mereka menunggu penjelasan dari dokter di depan ruang itu. Tiba-tiba ada seorang dokter keluar dari ruangan itu.
“Apakah kalian orang tua dari pasien?”tanya dokter itu.
“Iya dok”jawab Anggun
“Ada apa dengan dia, Dok?”tanya Fadli.
“Dia tidak apa-apa. Dia hanya sedikit shock dan luka luka di kepalanya itu hanya luka ringan.”jawab dokter itu.
“Boleh kami masuk, Dok?”
“Silahkan!”
Dengan tergesa-gesa mereka masuk dan menemui Wido. Mereka sedih melihat Wido terbaring lemah diatas tempat tidur. Sesaat kemudian orng tua Anggun datang kesana setelah dapat kabar dari pembantunya.
“Bagaimana keadaan Wido, Gun?”tanya mama Anggun.
“Maafkan Papa, Gun”pinta papa Anggun.
“Kenapa?”
“Karena Papa anak kamu seperti ini”
“Ini bukan salah Papa kok”jawab Anggun.
“Sekarang Papa tidak akan memaksa kamu menikah dengan dengan Alex dan Papa merestui hubunganmu dengan Fadli. Fadli, kamu maukan menikah dengan Anggun.”
“Terserah Anggun aja, Om. Kalau Anggun mau, Aku pasti mau.”jawab Fadli.
Kemudian mereka melirik kepada Anggun. Anggun hanya diam. Kemudian ia memeluk Fadli. Dan Fadli merasa senang sekali karena akhirnya dia bisa mewujudkan mimpinya. Tapi dia juga merasa sedih karena melihat anaknya yang sedang sakit. Setelah melepaskan pelukan, mereka pun tersenyum. Sementara itu, orang tua Anggun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anak muda itu.

SELESAI

Hidup itu berawal dari mimpi
Mimpi ituyang melahirkan cita-cita
Cita-cita itu harus diwujudkan dengan usaha
Usaha itu dilakukan bila ada kemauan dan
“Where there is a will there is a way”

0 komentar: